Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Tuesday, 10 April 2012

Ketika Rusukku Patah



Saudara saudariku yang dimuliakan oleh Allah.
Kisah ini berawal ketika aku diperkenalan seorang wanita yang kemuadian menjadi pendamping hidupku. Tak pernah ku lihat gadis ini sebelumnya. Aku hanya mendapatkan informasi dari teman yang memperkenalkannya padaku.
Di sore itu ta’aruf ku dengannya dimulai. Gugup aku berbicara dengannya ketika bertanya tetang ini dan itu, namun akhirnya aku dapat menguasai situasi. Aku mendengar perihal dirinya dari temanku, tentang semangatnya dalam berjuang, tentang kesungguhannya dalam berdakwah dan tentang teman-temannya yang mendapatkan hidayah lewat perantaranya. Subhanallah, pikir ku.
Aku yang semangat untuk hal ini akhirnya merasa cocok dengannya sehingga mau tidak mau, dengan senang hati maka aku menerimanya sebagai orang yang akan mendampingi langkahku ke depannya. Mengiring setiap usaha-usaha juangku di jalan-Nya. Yah aku sangat bersyukur mendapakan seorang bidadari yang memiliki mujahadah tinggi dalam mengemban risalah perjuangan dakwah ini.
Hari ku berlalu dengan hati yang berbunga dan riang gembira. Seakan telah ku dapati ketenagan yang dijanjikan oleh-Nya bagi insan yang menjalani hidup berumah tangga, membangun mahligai bahagia di atas jalan-jalan cinta para pejuang dakwah. Menjadi satu diantara deretan orang-orang yang menggenapkan separoh diynnya.
Namun, pahit tetaplah pahit. Di usia rumah tangga yang masih berumuran jagung, kami harus mendapatkan cobaan yang begitu berat. Sulit sekali membangun komunikasi dengannya untuk mempererat ukhuwah dalam keluarga. Aku pun merasa diri ditelantarkan olehnya karena kesibukannya mengurusi aktivitasnya di luar rumah.
Beberapa kali aku ajak untuk berbicara namun tak bisa untuk diwujudkan lantaran ada kegiatan di luar rumah yang harus diselesaikannya. Setiba dirumah, hanya rasa lelah yang tersisa yang sekejap saja harus tergantikan tidur yang pulas yang panjang seakan tanpa beban rumah tangga. Aku merasa semakin tak diperhatikan saja, maka ku adukan kejadian ini kepada kakakku yang telah mempertemukanku dengan wanita seperti ini.
Namun entah apa yang kakakku lontarkan kepadanya sehingga ia berlinang air mata. Tak kuasa diri ini menahan rasa bersalah. Tak terbayangkan olehku rasa sedih dan getir yang ia pendam di dada. Ya Allah ada apa dengannya? Ada apa dengan istriku.

Saturday, 31 March 2012

“Maaf Nak, Ayah Telat Karena Jalan Macet”



Hari ini tepat pukul 16.45 wita. Kami berkendaraan di jl. Pettarani, Makassar. Sepanjang jalan begitu padat kendaraan, bahkan orang-orang telah melewati jalan yang tidak seharusnya dikarenakan suatu sebab yang akhir-akhir ini marak terjadi di kota kami, dan umumnya di Indonesia. Pembahasan yang “disuarakan” pun sama dengan yang kemarin-kemarin, yaitu kenaikan BBM.
Tapi ada sisi yang menarik untuk kita bahasa di luar baik buruknya (dampak) kenaikan BBM, bukan pula tetang boleh tidaknya (hukum) Demonstrasi, namun sisi lain yang mungkin jarang diperhatikan oleh orang-orang yang melakukan “Reeaksi*”.
Waktu yang tengah menjelang petang ini tentu adalah waktu-waktu yang sudah lumrah sebagai waktu istirahat dari kebanyakan masyarakat yang telah menghabiskan waktunya untuk bekerja dari pagi sampai sore hari, baik pendidik (guru), pegawai kantoran, maupun pekerja-pekerja di bidang lainnya.
Seorang ayah seharusnya telah bersama dengan anak-anaknya untuk menikmati santap sore sambil nge-teh di teras rumah. Atau para sopir angkot yang telah capai putar-putar keliling mencari penumpang. Pastilah ingin membuang kepenatannya hari ini dengan pijatan sang istri tersayang.
Namun, semuanya hanya angan belaka kala itu. Semua hal yang didambakan hari ini terpaksa harus terhapus dari mahligai fikiran karena satu sebab, yaitu kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan akibat Reaksi.
Apakah mereka (orang yang ingin beristirahat dengan keluarga) egois karena berfikir ingin enak-enakan dan bersantai ria dengan keluarga mungilnya di rumah? Ataukan mereka adalah orang-orang yang tak punya nurani untuk merasai penderitaan teman-teman buruhnya yang “terancam”? Hmn.. kami rasa tidak, tidak sama sekali. Mereka adalah pengguna bahan bakar juga, mereka pun orang yang setiap harinya harus membeli lauk pauk, sayur mayur, dan berbagai macam makanan  4 sehat 5 sempurna sebagai kebutuhan pokok keluarga.

Wednesday, 28 March 2012

MUSYAWARAH BESAR VIII FUAS BONE

Alhamdulillah...

Kata yang hendaknya selalu terucap kepada Rabbul Alamin, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab segala yang kita miliki dan kita nikmati adalah pemberian-Nya jualah! mata yang digunakan untuk melihat! telinga yang digunakan untuk mendengar! lisan yang ia anugrahkan untuk berucap! serta segala organ tubuh lainnya dan juga segala harta benda yang dimiliki adalah pemberiannya pula!

salam dan sholawat semoga tercurahkan kepada Nabi kita, Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam... sebagai panutan terbaik! pemilik kesempurnaan akhlaq mulia!

Setahun telah berlalu,. kepengurusan FUAS BONE periode 1432-1433 H / 2011-2012 M telah berlalu. Musyawarah yang semestinya dilaksanakan setahun sekali pun telah usai. menyisakan kenangan-keningan indah dan unik bersama para pengurus dan kader. ada bayak kisah yang terukir. tentang mujahadah dalam perjuangan, kesenangan dan kebahgiakan ketika menikmati makian, dan tak luput pula kesedihan ketika cobaan pujian melanda perjalanan. melatih kita untuk ikhlas menapaki jalan-jalan Dakwah.

Friday, 23 March 2012

Menggendeng dalam Dosa

Kejadian Tanggal 17 November 2011.

Keceriaan meliputi diri ketika dalam perjalanan hendak ke Bone. Meski baru 2 bulan terpisah jarak dgn keluarga, rindu sudah menjadi sangat tak tertahankan.
Aku telah meninggalkan Makassar, maros adalah kota yg kini aku berkendaraan di atasnya. Menikmati sejuknya kota maros di tengah terik matahari, ya tepat pukul 12.00 wita. Indah sangat terlihat pegunungannya, dan tulisan yang sudah terbayang yang selalu aku baca tiap kali melewatinya. TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG. Seketika itu keceriaanku lenyap tak berbekas anganku pudar,menyebabkan aku lupa membacanya dikemudian..

Pemandangan yang sering aku saksikan di Makassar, beberapa pemuda berboncengan dengan lawan jenisnya. Hati ini tidak mampu berhusnuzhon kalo mereka adalah pasutri, karena usia mereka begitu belia, ku taksir anak SMA kelas XI. Boncengan dengan lawan jenis dengan tangan si wanita melingkar 360' (derajat). Pemandangan yg sering aku saksikan di makassar, namun entah mengapa ketika ku melihatnya di maros kejengkelanku naik daripada biasanya. Bukan hanya itu, tubuh yang rapat satu dengan yg lain. Bersandar dagu kepada si lelaki dengan pipi bertemu dgn pipi.

Tuesday, 20 March 2012

Putri...

Perih terasa, kini gadis kecil itu hidup sebatang kara. Tiada ayah tuk menjaga, tiada ibu tuk menyayang, dan tiada kakak atau adik untuk berbagi..

Hidup terasa berat olehnya. Melintasi jalan yg penuh onak dan duri di usia belianya itu. Cucur keringatnya tak dapat dibedakan dengan air mata yg berlinang membasahi pipinya.

Gadis kecil ini tetap tegar menjalani hidup, walau harus tidur beralas tanah dan bratap langit terbuka..

Sesuap nasi yg ia cari dgn susah payah, begitu mudah u/ kita buang percuma.. Baju usang yg qta jadikan lap atau sampah, ternyata adalah kemeja dan gaun kehormatan baginya, asal tidak robek a/pun sobek, itu sudah cukup untuk disebut mewah olehnya dan teman2nya..

Duhai Putri, alangkah malang nasibmu,

Duhai Putri, meski dirimu seperti i2, namun tak pernah trlihat oleh mata ini bagimu tuk brhenti ataupun lupa menengadah mengangkat tangan kelangit.. Tiap untai katamu tak pernah lepas nama ibu dan ayahmu.

Monday, 19 March 2012

Janji Bertemu di Surga

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, "sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar." (Yunus:15)